YISC Experience : Salah Satu Cinta-Nya

Penulis : Nining Wahyu S. (Al Abrar)

Editor : Fitri Al Tigris (Al Ghazi)

“Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.” Sapaan salam yang akhir-akhir ini menjadi sebuah kalimat yang wajib dan sering disuarakan. Seharusnya ini sudah lama, sebelum ini pun harusnya sudah dibiasakan.

“Islam kan agamanya?” Jika ditanya begitu rasanya benar-benar baru kemarin memeluk agama ini, masih buta pengetahuan padahal sudah dari bayi merah ditunjukkan agama Islam. Sepertinya ungkapan Islam KTP pun berlaku. Ini saja baru kejadian kemarin, apa kabar kisah kelam masa lalu?

Waktu itu seseorang bilang, ayo bergerak, jangan menunggu, dan entah kenapa satu per-satu perubahan diri terurai dengan baik. Dimulai dengan merubah cara pandang, cara berpakaian, dan berakhir di suatu tempat yang seumur berdiri di kaki sendiri baru dipijaki.

Tidak akan berubah nasib seseorang sebelum ia sendiri yang bergerak merubahnya. Ternyata bukan hanya sebuat kalimat motivasi ala-ala untuk mendukung seseorang tetapi sebuah pilihan yang bebas dipilih. Kalau berubah ya bergerak. Ya kan?

Sederhana tetapi hasilnya luar biasa. Salah satu bentuk rencana perubahan adalah dengan keluar dari zona nyaman. Satu pilihan dari beberapa pilihan yang diambil bernama YISC Al Azhar.

Alasan ikut YISC Al Azhar?

Jika ditanya alasan, rasanya ada segudang kalimat yang jika bisa diurai di sini ada beberapa halaman yang perlu digaris bawahi, ditebal atau dimiringkan. Sayangnya, ada beberapa alasan yang hampir sama seperti yang lainnya. Mau mempelajari Islam lebih baik, belajar makhrojul huruf, juga mendapat kawan se-Jannah. Intinya ingin menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.

Alasan umum yang juga saya alami tetapi bagian lain dari diri ada yang tertantang ketika seseorang mengatakan “Lo perlu belajar Islam lagi deh.”

Ego dan rasa kesal tumbuh lebih besar daripada rasa ingin tahu YISC itu apa sih. Entah kenapa dari ketidaksukaan itu malah diketemukan dengan mereka-mereka yang tulus menimba ilmu di tempat ini. Diajak, bahkan dikenalkan tanpa peduli alasan sebagian diri yang lain kenapa berada di sini.

Siapakah yang mengatur semua rencana baik ini?

Allah lah pengatur segala rencana. Dia yang Maha Baik. Dari remaja yang masih melanggar kewajiban, hobi ngebuat orang tua was-was, bahkan sering berantem sama adik-adiknya tapi dikasih jalan mulus buat kumpul sama orang-orang baik, do’anya masih didengar bahkan sering dikabulkan diwaktu tertentu. Nikmat Banget kan jadi hamba ini.

Allah itu pengatur yang terbaik. Sesuatu yang tidak disukai itu dengan entah apa rencana-Nya menjadi amat diharapkan ditiap harinya. Hari Minggu yang dibiasakan malas tak berkegiatan sebelumnya, menjadi berubah lebih giat dan semangat. Terbayang bakal banyak aktivitas seru dan berbeda yang sayang kalau dilewatkan.

Kalau dirasa lelah ketika ingat esoknya Senin jadi berubah saat sudah berada di YISC Al Azhar dan menjadi bagian dari mereka-mereka pengubah kapasitas diri. Seperti semboyan “biar lelah asal Lillah.”

Rencana lain dari-Nya adalah ditempatkan di kelas F (voting menunjukkan untuk nama adalah Familillah -Family Fisabilillah), katanya Dia tidak akan menempatkan atau mempertemukan seseorang dengan orang lain tanpa ada maksud dan tujuan yang berarti.

Dan eng-ing-eng, seiring waktu dan proses yang dijalani, merasa bersyukur karena berada dikeadaan ini. Bertemu dengan teman yang punya hobby sama, mau berbagi ilmu, pengetahuan, pengalaman dan rencana-rencana besar yang kini dipupuk bersama-sama.

Kalau dibilang ini puncak, rasa-rasanya masih terlalu dini untuk menyimpulkan. Masih banyak proses yang Dia rencanakan untuk dijalani. Ada saja agenda mereka-mereka yang perlu direalisasikan. Yaah, beginilah bagian dari proses bergerak dari zona nyaman dahulu.

Jika ditanya ada hambatan atau tidak dalam proses ini?

Jelas banyak sekali pertanyaan dan ketidaksukaan terhadap pilihan ini. Namanya juga hidup pasti banyak yang mencibir. kalau hidup hanya mendengar kata mereka tidak akan semangat hari esok. Jadi, jalani saja dulu, tujuan bukan akhir karena ketika sudah mencapai sesuatu yang pasti dirindukan adalah proses yang menjalani.

Terimakasih untuk-Nya yang mengubah dan mengatur dengan baik hidup ini. Ini adalah salah satu cinta-Nya. Terimakasih untuk teguran kesalahan, perencanaan yang dikira buruk padahal amat baik, juga berbagai macam hal-hal yang sederhana namun amat berbekas.

Pertanyaan akhir, apa hikmah yang didapat dari semua ini?

Jawabannya sederhana, jangan pernah menganggap pilihan itu buruk. Ditanya kenapa karena satu anggapan buruk akan mempengaruhi pola pikir diri. Maka berpikirlah baik dalam keadaan apapun karena sesuatu yang kamu anggap buruk bisa jadi adalah takdir terbaik pilihanNya.

 

 

Leave a Comment