YISC Experience : Satu Tahun Sudah Aku Melangkah

Penulis : Fitrin Nuha (Al Abrar)
Editor : Siti Saibah Alfatimiyah (Rabbani)

Begitu aneh terdengar, sekian lama aku menempuh kuliah dan menjalani hari-hari, tetapi aku baru mengetahui tempat ini ketika aku diberi tugas dan tanggung jawab untuk mengurusi tempat ini. Mata ini sekaan buta tak pernah melihatnya. Telinga ini seakan tuli tak pernah mendengarnya. Tangan dan kaki ini seakan lumpuh menggapainya.

Pada 1 September 2015 semua berawal dari segala kisah yang terjadi dalam hidupku. Tepat setahun lalu, aku melangkah ke tempat ini yaitu tempat yang kini aku sebut YISC Al Azhar. YISC Al Azhar menjadi pengganti semua yang pernah aku miliki, semua yang tak pernah aku relakan melepasnya dan semua yang mungkin tak pernah ada lagi dalam kehidupanku. Ketika kaki ini mulai melangkah, memasuki dunia baru, mengenal teman-teman baru dan mengenal semuanya yang serba baru, terasa begitu asing. Semua yang baru ini sangat berhubungan dengan tugas dan tanggung jawabku. Akhirnya mau tidak mau, aku harus membiasakan diri beradaptasi dengan semuanya tanpa terkecuali.

Hari berganti hari, setiap waktu yang aku jalani membuat begitu banyak pertanyaan dalam hati dan pikiran atas apa yang aku lihat. Apa yang aku dengar dan apa yang hatiku rasakan. Sesuatu yang tidak pernah ku lihat dimanapun, tempat yang pernah aku singgahi dan jalani yaitu sebuah ketulusan yang selalu tampak dalam diri mereka yang berada di tempat ini. Mereka dipertemukan bukan karena ikatan darah, tetapi mereka dipertemukan di tempat ini yaitu YISC Al Azhar, yang memiliki ketulusan melebihi ikatan darah dan ikatan yang dibangun sejak kecil. Aku ingin memiliki ketulusan itu, aku ingin merasakan apa yang mereka rasakan dan akhirnya aku ingin menjadi bagian dari tempat ini.

Akhirnya aku pun menjadi bagian dari tempat ini. Alhamdulillah dengan izin Allah Subhanahu Wa Ta’ala, aku resmi menjadi anggota YISC Al Azhar angkatan Januari 2016 yang diberi nama angkatan Al Abrar. Setelah resmi menjadi anggota, aku mengikuti kegiatan yang memang diwajibkan untuk anggota baru diantaranya Bimbingan Studi Qur’an (BSQ) dan Studi Islam Intensif (BSQ). Seperti sudah begitu lama, aku tidak belajar membaca Al qur’an. Tempat ini “memaksaku” mempelajari Al qur’an dan secara tidak langsung membuka memori masa keci dulu yang sudah lama aku lupakan.

Di tempat ini pun, aku mempelajari seputar Islam yang selama ini sangat kurang aku pelajari. Di tempat ini juga, aku dipertemukanku dengan sebuah nama yang saat ini menjadi sangat berarti dalam hidup dan hatiku yaitu Izdihar, sebuah nama kelas SII yang telah menyatukan aku dengan orang-orang yang saat ini menjadi bagian terpenting dalam hidup. Izdihar adalah satu nama yang memiliki arti persaudaraan, persahabatan, pengorbanan, ketulusan, kasih sayang, cinta, kebahagaiaan, anugerah, manfaat, tolong menolong dan kehidupanku.

Bagiku, Izdihar bagaikan ayah yang selalu menasehati saat aku berbuat salah, Izidhar bagaikan ibu yang selalu memberikan kasih sayang dan pengorbanan dalam hidup, Izidhar bagaikan saudara kandung yang selalu ada saat bahagia maupun sedih. Izidhar bagaikan sahabat yang selalu menemani dan memberikan pertolongan, Izidhar bagaikan guru yang selalu memberikan ilmu baru, Izdihar bagaikan kaki yang selalu mengiring langkah. Akhirnya Izdihar menjadi segalanya dalam hidup yang tidak pernah akan aku lepas.

Satu tahun telah aku lalui bersama YISC dan Izdihar namun waktu ini terasa begitu singkat, jika dibandingkan dengan perubahan banyak yang ada dalam hidup. Perubahan yang selalu membawa kebaikan dan kebahagiaan. Entah bagaimana mensyukuri atas kenikmatan yang tak terhingga dan atas semua anugerah yang aku dapatkan, yaitu cinta dan kasih sayang dari teman-teman di tempat ini yang begitu indah.
“Fabiayyi Aalaaaa Irobbikumaa Tukadzdzibaaaaaan”
“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan ?”

Tempat ini bukan hanya mengajarkan tentang ajaran islam dan persaudaraan tetapi juga mengajarkan tentang jiwa sosial yang harus dimiliki. Bagaimana aku mampu merasakan kesedihan orang lain dan membantu sesuai kemampuan yang aku miliki. Bagaimana aku dapat memberikan manfaat bukan hanya kepada diri sendiri tetapi juga orang dan lingkungan yang ada di sekitar. Bagaiman aku mampu mengorbankan waktu dan harta yang aku miliki untuk berjuang menegakkan ajaran islam. Bagaimana aku mampu menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain.
“Khoirunnas Anfa’uhum Linnas”.
“Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain”.
(H.R. Thabrani dan Daruquthni)

Kini aku mengerti ketulusan yang mereka miliki, ketulusan yang hadir saat berada di tempat ini, ketulusan yang ada tanpa mengharap balasan dan ketulusan yang tumbuh karena cinta kasih. Tempat ini seakan menjadi magnet untuk siapa pun yang ada di dalam nya, yang entah dengan kekuatan apa mampu mengikat sebuah ikatan dan jalinan yang melebihi ikatan persaudaraan, di dalam nya begitu banyak orang berhati tulus untuk menyampaikan dan menegakan kebeneran. Hal yang bukan hanya menjadi perwacanaan dan perbincangan semata tetapi juga diiringi dengan setiap gerak dan langkah untuk mengatur strategi dan melaksanakan semua kebaikan dan kebenaran. Aku percaya di tempat ini ada sebuah magnet yang bisa menarik semua perbedaan, membuat kaki melangkah bersama, membuat tangan menggapai bersama, membuat akal berfikir bersama dan membuat hati menyentuh setiap masalah yang ada.

Entah bagaimana kata yang tepat untuk menggambarkan fenomena yang ada ditempat ini, yang aku tahu, aku sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari tempat ini untuk belajar bersama dan akhirnya menegakkan kebenaran bersama. Satu tahun, dua tahun, tiga tahun atau berapa tahun yang akan aku jalani ke depan, aku ingin terus berada di tempat ini walaupun aku tidak lagi mengurus tempat ini karena aku telah menjadi bagian di tempat ini yang telah mengikat hati aku dengan orang-orang yang ada di sini.

Andai bisa aku ucapkan beribu-ribu terima kasih atas semua kepedulian, kasih sayang, ketulusan, kebahagiaan dan kehidupan baru yang aku dapatkan, tentu akan aku ucapkan setiap hari. Tepat satu tahun keberadaan aku di sini, bukanlah sebuah kebetulan aku sampai dengan dititik ini. Semua yang terlewati akan selalu memberikan hikmah dan pembelajaran dari setiap langkah, sehingga akhirnya aku memiliki ketulusan yang terpancar dari kalian.
Aamiin Allahumma Aamiin

Leave a Comment