Jl. Sisingamangaraja, RT.2/RW.1, Selong, Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12110

BeYe (Beita YISC) Hikmah : Pilihanmu Menentukan Kualitasmu

Oleh : Suherial Amin (Al Hijrah)
Editor : Ali Fikri (Al Ghazi)

Fenomena di Ibukota Indonesia, DKI Jakarta, sepertinya tidak pernah padam. Jakarta memang primadona dibanding provinsi-provinsi lain yang ada di Indonesia. Selain karena menjadi Ibukota Negara, Jakarta juga menjadi kota utama bisnis sebab hampir semua perusahaan berkantor pusat di sini. Namun meski begitu, Jakarta belum dapat menawarkan kenyamanan bagi penghuninya.

Magnet Jakarta pun sangat terlihat pada 21 September 2016 lalu. Bagaimana Jakarta menarik minat empat anak bangsa lainnya untuk menawarkan solusi baru bagi persoalan Jakarta selain yang dibawa oleh Petahana, Ahok-Djarot. Yakni Agus Harimurti Yudhoyono berpasangan dengan Sylviana Murni dan Anies Baswedan yang diduetkan dengan Sandiaga Uno.

Inilah proses politik dan demokrasi yang akan dilalui oleh Warga DKI Jakarta, mereka harus menetapkan pilihannya pada Februari 2017 nanti. Siapa pun yang terpilih, itulah pilihan warga DKI Jakarta dalam 5 tahun ke depan. Hal inilah yang menggugah penulis untuk menyampaikan kegelisahan dan kerisauannya terhadap Jakarta. Penulis ingin memastikan bahwa pemimpin yang akan dipilih oleh warga DKI Jakarta nanti adalah pemimpin yang dapat memberikan solusi untuk kota ini.

Penulis ingin berbagi sudut pandang, khususnya bagi warga muslim di DKI Jakarta, sebab 8 juta warga DKI Jakarta adalah muslim. Sehingga mewajibkan warga muslim untuk memilih pemimpin. Sebagai umat muslim tentu kita terikat pada suatu aturan agar selamat dunia dan akhirat, yakni Al qur’an dan Hadis. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassalam :

“Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang teguh kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya (H.R. Malik, Al Hakim, Al Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm)”.

Tentu sebagai penganut ajaran Islam kita wajib untuk patuh dan taat dengan ketentuan tersebut, termasuk dalam memilih pemimpin. Sebab Al qur’an adalah konstitusi bagi umat Islam, sebagaimana Undang-Undang Dasar 1945 yang menjadi konstitusi bagi rakyat Indonesia. Di dalam Al qur’an ada suatu kaidah yang mesti dipatuhi oleh Umat Islam dalam memilih pemimpin, yaitu umat Islam dilarang mengangkat Pemimpin atau Wali dari orang kafir. Ada beberapa ayat dalam Al qur’an yang menjadi landasan pelarangan tersebut, di antaranya :

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang kafir menjadi Wali (Pemimpin) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kalian mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksa kalian)? (Q.S. An nisa : 144)”.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu), sebagaian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim (Q.S. Al maidah : 51)”.

Berdasarkan ketentuan tersebut, muslim yang baik khususnya bagi warga muslim DKI Jakarta wajib memilih pemimpin muslim. Sehingga umat muslim tidak perlu ragu untuk memilih pemimpin dari kalangannya sendiri bahkan mengajak sekalipun dan tidak perlu takut karena alasan SARA. Sebab hal ini sudah dijamin oleh Negara sebagaimana yang diatur dalam Pasal 29 ayat 2 Undang-Undang Dasar 1945 :

“Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadah menurut agamanya dan kepercayaanya itu”.

Sehingga apa yang dilakukan oleh umat muslim tersebut adalah bagian dari beribadah menurut agama dan kepercayaan sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 29 Ayat 2 Undang-Undang Dasar 1945 tersebut. Permasalahan utama selesai namun selanjutnya muncul pertanyaan dalam pikiran warga muslim DKI Jakarta, calon Gubernur DKI Jakarta yang beragama Islam ada dua, lantas mesti pilih yang mana?

Dalam hal ini Syaikh Yusuf Qardhawi memberikan sebuah pendapat “Setidaknya ada tiga cara dalam mempertimbangkan pilihan. Jika semuanya baik, pilihlah yang paling banyak kebaikannya, Jika ada yang baik dan ada yang buruk, pilihlah yang baik. Jika semuanya buruk pilihlah yang paling sedikit keburukannya”.

Jadi terhadap kondisi dua pilihan tersebut, pilihlah yang paling banyak kebaikannya. Dalam artian menurut pemahaman penulis, yang paling banyak pengalaman dan memiliki track record yang baik sebelum akhirnya mereka dicalonkan. Tentu saja yang memiliki banyak pengalaman maka kemampuan seseorang sudah lebih teruji. Sebagai contoh untuk menjadi Hakim Agung Republik Indonesia harus berusia minimal 45 Tahun dan berpengalaman dibidang hukum paling sedikit 20 tahun hal ini merujuk pada Pasal 7 Undang-Undang No 3 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang No 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung.

Sehingga untuk memilih pemimpin selain dia harus muslim, maka bagi warga muslim DKI Jakarta mereka harus melihat pengalaman dan keahlian dari pasangan calon tersebut. Hal ini sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassalam :

“Jika amanah telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi, Ada seorang sahabat bertanya: bagaimana maksud amanah yang disia-siakan? Nabi menjawab jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu (H.R. Bukhari).”

Oleh sebab itu bagi warga muslim DKI Jakarta sebelum menetapkan pilihan, pertimbangkanlah dua kaidah yang telah disampaikan dalam memilih pemimpin yaitu muslim dan ahli agar permasalahan Ibukota yang kita cintai ini dapat ditemukan solusinya.

Akhirnya selamat menikmati proses demokrasi, ingat pilihanmu menentukan kualitasmu, sebab pemilih yang cerdas pilih pemimpin yang berkualitas.

***

Leave a comment