Jl. Sisingamangaraja, RT.2/RW.1, Selong, Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12110

BeYe (Beita YISC) Hikmah : Tak Selalu di Sisi

Oleh : Nining Wahyu Septiani (Al Abrar)
Editor : Fitri Al Tigris (Al Ghazi)

Idealnya, ada aku harusnya sih ada kamu, Lalu beriringan waktu memulai perjalanan. Manisnya sih, aku dan kamu menjadi kita. Seirama bersisian satu sama lain. Tapi kan tak selalu harus hadir di sisi.

Ketika terjadi sebuah proses pertemuan, biasanya awal perkenalan malu-malu, sok jaga image, sambil membaca situasi dan menyelami karakter masing-masing. Kadang kala butuh waktu sampai beberapa bulan untuk menemukan seseorang yang cocok di hati.

Jadi bukan pasangan saja yang ada istilah “chemistry”, dalam pertemanan bahkan persahabatan pun biasanya ditemukan istilah demikian. Apalagi ketika ingin bercerita tentang diri sendirilewat curhat. Maka akan terlihat yang benar-benar membuat nyaman.

Setelah itu akan muncul kejadian-kejadian yang akan mengakrabkan atau mungkin memberi jarak. Jarak disini bukan karena kelihatan sifat tidak baiknya lalu kabur, tapi ketika suatu waktu dia pergi mengejar mimpinya. Meraih cita-cita yang beberapa waktu lalu diceritakan dengan mata bercahaya dan senyum yang terus mengembang. Kebersamaan yang singkat itu berakhir dan berganti dengan komunikasi jarak jauh.

Maunya sih, ketika menemukan sosok yang nyaman dan bisa terbuka menceritakan segala hal, langsung bertatap muka. Melihat mata yang semangat memberi nasihat atau menatap bahagia mereka yang membagi semangat. Kemudian ketika prosesnya terbilang sulit dan difase terbawah, mereka datang dengan semangat menghibur atau mengajak ke tempat tertentu.

Tapi bagaimana ketika sosok itu berada di tempat yang berbeda. Keterbatasan waktu dan jarak yang tidak lagi sama. Bermodalkan media yang disesuaikan kesepakatan kedua belah pihak? Apa menghalangi persahabatan yang terjalin tulus?

Tentu saja tidak. Karena tak harus selalu ada di sisi dalam menjalin sebuah hubungan.

Ketika sekolah dasar, kita akan bertemu dengan mereka yang sama-sama memulai dari nol, belajar menulis, menghitung, hal-hal mendasar lainnya. Dan saat waktunya sekolah menengah pertama, kita akan paham apa itu ilmu pengetahuan secara mendalam atau bertemu orang-orang baru yang sudah kenal kemampuannya masing-masing. Tapi bukan berarti kita harus lupa dan abai pada mereka (teman sekolah dasar) bukan?

Lalu saat beranjak ke jenjang selanjutnya. akan ada dua pilihan antara Kejuruan atau Sekolah Menengah Atas. Yang keduanya tentu akan terarah kepada impiannya masing-masing. Apa itu berarti kita tak perduli pada teman-teman kita yang berada di tingkatan sebelumnya? tentu saja tidak.

Jadi, ini hanya mengenai tahapan tertentu ke arah cita-cita atau tujuan kita saja. Yang kebetulannya itu sedikit berbeda dengan teman atau sahabat kita saat ini dan artinya kita akan menemukan orang-orang baru di kehidupan yang baru.

Lalu apa maknanya?

Allah Subhanahuata’ala akan memberikan kita orang-orang yang baik yang mengajarkan segala hal. Jangan bersedih dipertemukan sekali, jangan kecewa jika tidak selalu bersama, dan jangan marah kalau waktunya sudah selesai.

Karena setelah pertemuan diakhiri, kita akan belajar dua hal, pertama apa yang bisa kita petik dari pertemuan ini (pengalaman) dan kedua kamu akan memulai pertemuan yang lain (awal yang baru).

Ketika kamu selesai dan paham maksud yang tersampaikan. Kamu akan mengingat satu, dua orang atau bahkan lebih yang saat ini tidak berada di sisi kamu (yang sedang menapaki tangga mimpinya) sebagai sesuatu yang kamu syukuri. Karena dari mereka kamu belajar tangguh, kuat dan terpacu untuk lebih semangat lagi. Atau kalau sempat kamu akan menghubungi mereka.

Aku menitipkan kalian sahabat-sahabatku, pada Allah yang tidak mungkin menyia-nyiakan titipannya.

***

Leave a comment