Jl. Sisingamangaraja, RT.2/RW.1, Selong, Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12110

(BeYe) Berita YISC: (I-Con) Inspiration Corner : Napak Tilas Imam Bukhari

Penulis : Muhammad IkbarIshomi (Robbani)

Editor   : Cut Hani Bustanova (Daffa)

            Imam Bukhari adalah ahli hadits yang termasyhur diantara para ahli hadits sejak dulu hingga kini bersama dengan Imam Ahmad, Imam Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasai, dan Ibnu Majah. Bahkan dalam kitab-kitab fiqih dan hadits, hadits-hadits beliau memiliki derajat yang tinggi. Sebagian masyarakat muslim menyebutnya dengan julukan amirulmukmininfilhadits. Dalam bidang ini, hampir semua ulama di dunia merujuk kepadanya.

Imam Bukhari juga dididik dan dibesarkan di keluarga ulama yang taat beragama. Dalam kitab As-Siqat, Ibnu Hibban menulis bahwa ayahnya dikenal sebagai orang wara dalam arti berhati-hati terhadap hal-hal yang sifatnya haram. Perhatiannya kepada ilmu hadits yang sulit dan rumit itu sudah tumbuh sejak usia sepuluh tahun, hingga pada usia enam belas tahun beliau sudah menghafal dan menguasai buku-buku seperti Al-Mubarak dan Al-Wakili. Pada usia delapan belas tahun beliau sudah menerbitkan kitab pertamanya‘qudhaya as shahabahwattab’ien’ bersama gurunya Syekh Ishaq. Beliau juga menghimpun hadits-hadits shahih dalam satu kitab dari satu juta hadits yang diriwayatkan oleh 80.000 perawi kemudian disaring lagi menjadi 7275 hadits. Imam Bukhari juga diakui memiliki daya hafalan tinggi oleh kakaknya Rasyid bin Ismail. Ketika sedang berada di Baghdad, Imam Bukhari pernah didatangi oleh sepuluh orang ahli hadits yang ingin menguji ketinggian ilmu beliau. Dalam pertemuan tersebut, sepuluh ulama itu sengaja mengajukan seratus buah hadits yang diputar-balikkan untuk menguji hafalan beliau.

Imam Bukhari juga membuat karya-karyanya seperti kitab al-jami ash shahih, al-adab al mufrad, at tharikh as shagir, at tarikh al awsat, at tharikh al kabir, assmi as sahabah dan al hibah. Karya yang paling monumental adalah kitab al-jami ash-shahih yang lebih dikenal dengan shahih Bukhari. Dalam sebuah riwayat hadits diceritakan, Imam Bukhari berkata: “Aku bermimpi melihat Rasulullah SAW seolah-olah aku berdiri di hadapannya, sambil memegang kipas yang ku pergunakan untuk menjaganya. Kemudian aku tanyakan mimpi itu kepada sebagian ahli tabir mimpi. Ia menjelaskan bahwa aku akan menghancurkan dan mengikis habis kebohongan dari hadits-hadits Rasulullah SAW. Mimpi inilah, antara lain, yang mendorongku untuk melahirkan kitab al jami’ as-sahih.

     Ketika dalam proses menghimpun hadits-hadits shahih dalam kitabnya tersebut, Imam Bukhari menggunakan kaidah-kaidah penelitian secara ilmiah dan sah yang menyebabkan keshahian hadits-haditsnya dapat dipertanggungjawabkan. Imam Bukhari juga senantiasa membandingkan hadits-hadits yang diriwayatkan, satu dengan lainnya, menyaringnya dan mencari yang paling shahih sehingga kitabnya merupakan batu uji dan penyaring hadits-hadits tersebut. Hal ini tercermin dari perkataannya : “Aku susun kitab Al Jami Ash Shahih ini yang dipilihdari 600.000 hadits selama enam belas tahun. Imam Bukhari juga selalu berpegang teguh pada tingkat keshahihan paling tinggi dan tidak akan turun dari tingkat tersebut, kecuali terhadap beberapa hadits yang bukan merupakan materi pokok dari sebuah bab. Menurut Ibnu Shalah, kitab shahih Bukhari itu memuat 7275 hadits. Selain itu ada hadits-hadits yang dimuat secara utuh tanpa pengulangan. Adapun jumlah semua hadits shahih (termasuk yang dimuat berulang) sebanyak 7379 buah. Perhitungan ini berbeda diantara para ahli hadits tersebut dalam mengomentari kitab shahih Bukhari semata-mata karena perbedaan pandangan mereka dalam ilmu hadits.

            Imam Bukhari juga dikenal sebagai pengarang kitab yang produktif. Karya-karyanya juga ada dalam disiplin ilmu lain, seperti tafsir, fiqih dan tarikh. Fatwa-fatwanya selalu menjadi pegangan umat dan menduduki derajat sebagai mujtahidmustaqil yaitu tidak terikat pada madzhab tertentu sehingga beliau mempunyai otoritas tersendiri dalam berpendapat tetang suatu hukum. Beliau wafat pada tanggal 31 Agustus 870 (256 H) pada malam Idul Fitri dalam usia 62 tahun kurang 13 hari. Sebelum meninggal, ia berpesan agar jenazahnya dikafani tiga helai kain, tanpa baju dan tidak memakai sorban.

 

 

 

 

Leave a comment