Jl. Sisingamangaraja, RT.2/RW.1, Selong, Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12110

HUJAN

By: Faris Tio

Di waktu itu pula, doa-doa bagaikan tanpa penghalang. Salah satu waktu mustajab untuk kita meminta. Maka, siapkanlah doa terbaikmu kala itu. Perbesarlah wadah doa itu agar senantiasa tidak untuk kebaikan dirimu sendiri, tapi untuk kebaikan hamba-Nya yang lain.

 

Hujan memberikan kita banyak cerita. Kenangan seolah tumpah ruah bersama setiap tetesannya. Adalah Dia, Sang Maha yang menghadirkan segala aroma ketenangan. Aroma menawan itu selalu disebut-sebut dengan sangat istimewa; petrichor.

Senada dengan semesta kala awan berubah gelap seketika. Gemuruh saling menyusul diantara detik perubahan wajah langit. Lantas apa yang sering kita lantunkan kala tetesan pertama menyentuh pori-pori tubuh? Adakah hati dengan rupa merona? Adakah lisan berucap syukur tanpa kita sadarkan lebih dahulu? Atau malah sebaliknya, kita bersikap tidak semestinya. Sumpah serapah mengiringi lisan seraya mengabarkan pada sekitar, bahwa hujan mengubah segalanya, merusak janji kita, bahkan derasnya mempengaruhi kadar rezeki? Ah bisa saja, ada orang-orang di luar sana yang dengan mudahnya menyalahkan hujan. Ia pun menyeletuk, “Sial, rezeki bakalan hancur. Malah kendaraan baru dicuci, pake ujan segala.”

Ketika ketetapan Allah satu persatu turun ke bumi, seharusnya kita siap menerimanya. Bukankah kita juga yang sering meminta pada-Nya tentang segala. Tentang semua hal yang sampai saat ini belum kita butuhkan. Hanya baru tahap “Kepingin” di langit imajinasi, ditahap itu pula kita merintih, kita memohon pada-Nya keinginan yang bisa disegerakan. Namun, kita lupa tentang berjuta rahmat yang Allah berikan dalam setiap bulir hujan. Padahal, Sang Maha sudah menurunkannya sesuai kebutuhan.

Kelupaan kita pada berjuta nikmat nyatanya membuat kita mengingat satu keinginan tanpa landasan iman. Betapa tidak, hujan turun dengan kadar sesuai ukuran. Tentulah kita harus sadar, tentang kecepatan hujan. Kecepatan yang menurut Harun Yahya, “Apabila ada benda yang berat dan ukurannya sama dengan air hujan, bila dijatuhkan dari ketinggian 1.200 meter, akan mengalami percepatan terus menerus dan akan jatuh ke bumi dengan kecepatan 558 km/jam.”  Akan tetapi, lanjut beliau, “Rata-rata kecepatan hujan hanyalah 8-10 km/jam. Air hujan jatuh ke bumi dengan kecepatan rendah, karena titik hujan memiliki bentuk khusus yang mampu meningkatkan efek gesekan atmosfer dan membantu hujan turun ke bumi dengan kecepatan yang lebih rendah.”

Pernahkah kita mengganti keluh kesah dengan merenung sedalam mungkin? Merasakan lembut tetesannya dengan hati yang penuh syukur? Dan memikirkan, bagaimana jika bentuk titikhujan itu mempunyai beda satu dengan lainnya? Atau andaikan saja atmosfer yang Allah ciptakan tak memiliki sifat gesekan, mungkin bumi akan menghadapi kehancuran setiap hujan turun kan?

Merendahkan hati membaca sabdanya membuat kita meyakini, Allah selalu memberikan apa yang ada di bumi sesuai kadar. Al-Quran memberikan kita pemaknaan akan semesta. Sebagaimana dalam surat Az-Zukhruf ayat 11, mendefinisikan hujan sebagai air yang dikirimkan Allah sesuai “kadar”. Di ayat itu Allah berfirman, “Dan yang menurunkan air dari langit menurut ukuran (yang diperlukan)…”

Tersadarkan. Itulah kata yang mampu mewakili setiap kadar rasa syukur kita yang perlahan menipis. Bukan rezeki Allah yang habis, melainkan hati kita yang meringis. Meringis akan pengetahuan terhadap ketetapan-Nya yang minimalis. Seharusnya hujan mampu memberikan kita pemahaman akan milyaran kubik air di alam semesta ini. Jangan sampai, hujatan kita yang sering tak berlandaskan iman itu ditegur kembali oleh Allah dalam surat Al-Waqiah ayat 68-70, Allah berfirman, “Maka terangkanlah kepada-Ku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkannya? Kalau Kami kehendaki, niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapa kamu tidak bersyukur.”

Aku, kamu dan kita semua pasti menginginkan menjadi makhluk yang dikehendakinya bergembira tatkala hujan turun kan? Dan memang, ketika kehendak Allah tidak turun pada kita, bisa saja, gembira tak lagi dirasa. Sebagaimana Allah berfirman pada surat Ar-Rum ayat 48, “Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal, lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya tiba-tiba mereka menjadi gembira.”

Ulasan mengenai hujan pun seharusnya membuat kita semakin takut. Semakin ingin terus memperbaiki diri dari hari ke hari. Selalu menyempatkan diri bersiap untuk melafadzkan doa ketika hujan turun. Semoga Allah senantiasa memberikan hujan yang manfaat. Bukan hujan yang mendatangkan kekhawatiran akan dampak setelah ia turun.

Di waktu itu pula, doa-doa bagaikan tanpa penghalang. Salah satu waktu mustajab untuk kita meminta. Maka, siapkanlah doa terbaikmu kala itu. Perbesarlah wadah doa itu agar senantiasa tidak untuk kebaikan dirimu sendiri, tapi untuk kebaikan hamba-Nya yang lain.

Petrichor seraya memberikan kebahagiaan bagi mereka para pencari rezeki di luar sana. Hal-hal sederhana itu, seperti memberikan kesadaran pada diri akan keberadaan mereka, membuat kita bertunduk syukur. Iya, mereka yang membuka payung di keramaian pusat ibukota. Menyodorkan jasanya agar orang lain tidak basah kuyup, dan biasanya mau dibayar dengan harga berapapun meskipun ia sendiri rela berbasah-basahan. Dan kamu pasti banyak bertemu dengan mereka, apalagi mereka yang masih terlihat lucu, memanggil kita dengan sebutan om atau tante. Bahkan tak jarang mereka tertawa lepas ketika kita memberikan secuil rezeki berupa uang untuk jasa payungnya. Masya Allah.

Tentang syukur yang sering kita lupakan. Semoga apapun bentuk ketetapan yang Allah hadirkan, tak membuat hati kita meronta. Seperti ingin lepas dari ketetapan itu. Bagaikan kita yang sering mengeluh “Aduh” ketika langit mendung. Menyeringai “Kenapa” tatkala hujan menerpa wajah. Kita inginnya sering disegerakan agar hujan tidak turun. Diterangkan dari kegelapan akan kehidupan. Tapi kita enggan menerima setiap tetesan hujan. Kita pun lupa mencari cahaya kala kegelapan tiba pada ruas kehidupan. Iya, kita lupa menyediakan payung, membawa jas hujan, atau sekadar mempersiapkan hati yang mau menerima meskipun pada akhirnya terkena hujan.

Bagaimana dengan kehidupan yang digelapkan? Kita sering juga meracau, melupakan setiap cahaya yang diberikan Allah. Dan ketika cahaya kehidupan itu digelapkan satu persatu barulah kita sadar, bahwa cahaya Allah begitu mengagumkan. Menenangkan. Pun menghangatkan. Bagaikan mentari ditengah badai salju. Cahaya yang sering kita lihat mengagumkan pada akhirnya sengaja Dia redupkan. Cahaya berupa banyak hal, pekerjaan, keberlimpahan materi, juga lainnya yang pada dasarnya membuat kita terpedaya akan keberadaanya, dan lupa menyadari keberadaan-Nya.

“Kenapa hujan?”

Mungkin pernyataan itu sederhana. Namun, kekesalan kita seakan membuat kita menjadi “Tuhan”. Bersikap menyalahkan. Seakan kita sang pemegang ketetapan. Padahal Nabi Allah Yunus pun pernah merasakan kegelapan yang amat ketika pernyataan sederhananya menelan ia ke perut ikan paus. Apakah ia lantas meronta ingin keluar dari perut ikan? Tidak, Nabi Allah Yunus menyadari, bahwa ia sudah berlaku tak semestinya terhadap kaumnya. Sejatinya hanya Allah yang mampu mengubah suatu kaum, bukan dirinya. Dan doa yang terucap pun mengatakan pengakuannya akan kesalahan. Dan ia menyatakan tidak ada tuhan selain engkau ya Allah, “la illaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzholimin.”

Semoga kita mau untuk membaca setiap pesan cinta-Nya. Hujan yang diberikan atau pun masalah yang kini menghadang di kehidupan adalah semata karena Allah cinta. Jangan sampai kita ingin segera keluar dari permasalahan, ingin diberhentikan hujannya, atau ingin dibebaskan dari perut ikan paus, padahal Allah sedang mempersiapkan daratan untuk menyediakan solusi dari setiap permasalahan. Dan tidak dikeluarkan di dalam lautan, apalagi ditinggalkan menyelesaikan sendiri setiap permasalahan.

Maka alangkah tidak elegannya, ketika kita menyukai petrichor atau pelangi tanpa lebih dahulu menyukai awan mendung sampai hujan turun.

Editor by: Apriliah Rahma

Leave a comment