Jl. Sisingamangaraja, RT.2/RW.1, Selong, Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12110

Kisah Penderitaan Sayyidina Khabbab bin AI-Arat Radhiyallahu ’anhu

Sayyidina Khabbab bin AI-Arat Radhiyallahu ’anhu termasuk seorang sahabat yang dipenuhi keberkahan, yang menyiapkan dirinya untuk menerima berbagai ujian. Dia adalah orang yang telah menahan penderitaan-penderitaan yang berat di jalan Allah Subhanahu wa ta’ala pada masa awal Islam. Khabbab masuk Islam ketika baru ada lima atau enam orang yang menerima Islam, sehingga ia cukup lama bergelut dengan penderitaan dalam memperjuangkan keimanannya. Dirinnya pernah dipaksa memakai baju besi, lalu dibaringkan di bawah terik matahari yang sangat panas hingga keringat membanjiri dari sekujur tubuhnya. Begitu sering dia dibaringkan di padang pasir yang sangat panas, sampai daging punggungnya terkelupas.

Sayyidina Khabbab bin Al-Arat Radhiyallahu ’anhu adalah hamba sahaya milik seorang wanita kafir. Ketika wanita itu mengetahui dia sering menjumpai Baginda Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wasallam, ia menghukum Sayyidina Khabbab Radhiyallahu ’anhu dengan menyengatkan batang besi panas ke kepalanya.

Ketika menjadi khalifah, Sayyidina Umar bin Khaththab Radhiyallahu ’anhu meminta Sayyidina Khabbab Radhiyallahu ’anhu menceritakan kembali penderitaan yang telah dialaminya dahulu. Sayyidina Khabbab Radhiyallahu ’anhu berkata,” Lihatlah punggungku ini.” Begitu Sayyidina Umar Radhiyallahu ’anhu melihat punggungnya, dia berseru, “Belum pernah kulihat punggung yang luka separah ini.” Sayyidina Khabbab Radhiyallahu ’anhu berkata, “Aku diseret di atas timbunan bara api yang menyala, sehingga Iemak dan darah yang mengalir dari punggungku memadamkan bara api itu,”. Setelah lslam jaya dan pintu-pintu kemenangan terbuka Iebar, Sayyidina Khabbab Radhiyallahu ’anhu menangis, ”Saya khawatir penderitaan-penderitaan kita untuk agama telah dibalas di dunia, sehingga tidak ada balasan lagi di akhirat.”

Sayyidina Khabbab Radhiyallahu ’anhu bercerita, ”Suatu ketika Baginda Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam shalat begitu panjang, tidak seperti biasanya. Lalu, ada seorang sahabat yang bertanya tentang shalatnya itu.” Baginda Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam menjawab, ”Ini adalah shalat yang penuh harap dan takut. Aku mengajukan tiga permintaan kepada Allah Subhaanahu wata’ala. Dua telah dikabulkan dan yang satu ditolak. Pertama, aku memohon agar umatku tidak dimusnahkan dengan kelaparan, Allah Subhaanahu wata’ala mengabulkan doa ini. Kedua, aku meminta agar umatku tidak dikuasai oleh musuh yang akan menghabisinya, Allah Subhaanahu wata’ala pun mengabulkan doa ini. Yang ketiga, aku meminta agar tidak ada pertikaian di antara umatku, tetapi Allah Subhaanahu wata’ala tidak mengabulkan doa ini.”

Sayyidina Khabbab Radhiyallahu ’anhu wafat pada tahun ke 37 H. Dia shahabat yang pertama kali dimakamkan di Kufah. Setelah wafatnya, Sayyidina Ali Radhiyallahu ’anhu pernah melewati kuburnya dan berkata, “Semoga Allah Subhaanahu wata’ala merahmati Khabbab. Dengan senang hati ia memeluk Islam, dengan suka rela ia berhijrah, dan untuk berjihad ia menghabiskan umurnya, serta ia telah menahan bermacam-macam penderitaan untuk agama. Penuh berkahlah orang yang selalu mengingat Hari Kiamat dan bersiap-siap untuk menghadapi hari Hisab. Ia merasa cukup dengan harta seadanya, dan ia membuat ridha Tuhannya.”

Faedah
Mencari ridha Allah Subhaanahu wata’ala semata adalah tujuan dari kehidupan para sahabat. Setiap pekerjaan semata-mata untuk mendapat ridha-Nya.

 

Wallahu A’lam Bishawab
Kitab Sahabat
===================
Pengurus SII – YISC Al Azhar
(dari Kitab Usudul Ghabah)

*Proses edit oleh tim Jurnalistik-Humas YISC Al Azhar

Leave a comment