Jl. Sisingamangaraja, RT.2/RW.1, Selong, Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12110

New Normal, New Self, New YISC

Seorang teman curhat kepada saya bahwa dia tidak betah dengan pekerjaannya di sebuah perusahaan yang bonafide, karena dirasa monoton, tidak ada tantangan yang membuatnya semangat. Saya tanya balik, “Berapa lama sudah bekerja di sana?” Penyakit lulusan kampus saya pun tergambar di kepala yang mudah pindah-pindah baru beberapa bulan bekerja. “Tiga tahun”, tak disangka jawabannya. “Kenapa tidak pindah dari dulu?” tanya saya lagi. “Ya, gimana lagi? Gue kerja dari Senin sampai Sabtu. Minggu seringnya dipakai buat istirahat, baru aja lowong mikirin pindah kerja, eh udah mau Senin lagi”.

Begitulah efek terjebak rutinitas. Sibuk, produktif namun tidak sempat berkontemplasi apakah yang dikerjakan sesuai dengan keinginan, cita-cita? Apakah modal yang hilang semisal waktu dengan keluarga, waktu bersosialisasi, waktu mengerjakan yang sesuai dengan minat, setimpal dengan yang didapat? Penting untuk sejenak keluar dari rutinitas, dan diantara hikmah banyak perintah ibadah kita adalah untuk itu. Asik kuliah, sibuk rapat, dipotong dengan shalat fardhu. Puasa di bulan Ramadhan membedakan dari bulan-bulan lainnya. Datangnya musibah juga termasuk.

Organisasi pun bisa terjebak dalam rutinitas. YISC dengan prestasinya puluhan tahun tetap eksis; anggota masuk tiap semester 400an orang, dan alumni yang banyak menjadi tokoh. Kegiatan padat dan beragam dapat menyebabkan kita terbawa dan menganggap bahwa warisan yang sudah ada itu saja lah yang dikerjakan.

Menjelang masa kerja kepengurusan YISC 2016–2017, sebagai bahan sosialisasi pilketum (pemilihan ketua umum), teman-teman dan saya saat itu mencoba menelaah aktivitas organisasi YISC yang berkutat pada 3 cakupan, yaitu; kegiatan pendidikan, kegiatan sosial, dan terakhir kegiatan minat dan bakat yang didalamnya termasuk kepemimpinan. Masing-masing kegiatan punya acara-acara yang wah. Fenomena yang muncul; adanya ashobiyah bidang, internal bidang solid namun ada tarik menarik SDM (Sumber Daya Manusia), slot kegiatan, dan juga dana antar bidang. Di sini diambil kesimpulan saat itu bahwa sumber daya YISC tidak akan maksimal untuk menjalankan semua kegiatan ini. Harus ada yang difokuskan. Pendidikan misalnya, dibuat lebih panjang masa belajarnya, juga ada ujian yang mendalam di ujung masa belajar, dirintis menuju serupa mahad atau sekolah tinggi islam. Atau fokus lain misalnya di Sosial; galang dana, terus dengan belajar ke ACT (Aksi Cepat Tanggap), Dompet Dhuafa, MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) dan semacamnya.

Diskusi internal berlanjut terus hingga diputuskan fokus kepengurusan menjadikan YISC sebagai pencetak komunitas pemuda Islam yang solutif. Kenapa tidak fokus di bentuk kegiatan? Karena sayang pengalaman yang sudah ada dalam menjalankan beragam kegiatan ini. Selain itu, untuk menjalankan fokus semisal Lembaga Pendidikan, butuh pengurus dengan masa kerja lebih lama, seperti YPI Al Azhar yang 5 tahun sekali. Kita juga melihat ada sesuatu yang menonjol di YISC di luar cakupan kegiatan, yaitu keakraban antar civitas. Rencananya adalah agar semester awal kita bangun ukhuwah antar anggota baru, lalu dengan civitas lain, setelahnya dikenalkan dengan beragam kegiatan yang ada untuk jadi inspirasi bagi mereka nantinya membuat komunitas pasca YISC, baik komunitas belajar, sosial, minat dan bakat.

Perubahan pembagian kelas SII dari usia menjadi domisili menjadi penting di sini. Peserta dimudahkan untuk membangun ukhuwah, bisa pulang pergi bareng, dan memenuhi hak-hak semisal menjenguk ketika ada yang sakit. Nantinya juga saat membangun komunitas mudah dalam menentukan area kegiatan dan base camp masing-masing. Dan ternyata ini sejalan dengan impian pendiri YISC, Bunda Filomena. Selang beberapa lama saat mengumpulkan bahan buku sejarah YISC, Bunda Filomena dulu mempunyai keinginan untuk membuat banyak komunitas selepas aktif di YISC, utamanya untuk civitas yang harus pindah kota karena kuliah ataupun bekerja di tempat yang baru.

Pemberlakuan konsep ini tidak mudah, dengan banyak dinamika, namun inilah hasil tafakur pengurus saat itu, menyibak rutinitas.

Kini dengan kondisi adanya Covid-19, sebuah momen keluar dari rutinitas. Saya mengapresiasi dan ingin memberikan dorongan kepada teman-teman pengurus yang saat ini sedang mencoba memberlakukan blended learning, belajar offline dan online. Adaptasi yang perlu untuk keberlangsungan YISC kedepan. Tambahan, ada rencana kedepan terobosan untuk pelaksanaan integrative learning, yaitu dengan mengintegrasi semua bidang masuk ke dalam kurikulum Pendidikan dan bergeser fokus Pendidikan khususnya SII di fiqih ke menghidupkan kesadaran civitas untuk berkontribusi. Mari kita doakan semoga semua ini bisa terlaksana dengan baik.

Perubahan tidak mudah terutama saat kita telah lama dalam rutinitas, tapi hasilnya yang diharapkan, yaitu pahala yang bersambung.

“Barang siapa merintis (memulai) dalam agama Islam sunnah (perbuatan) yang baik maka baginya pahala dari perbuatannya tersebut, dan pahala dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya, tanpa berkurang sedikitpun dari pahala mereka” (HR. Muslim).

 

(Penulis : Muhammad Reza, Ketua Umum YISC Al Azhar periode 2016–2017, anggota Badan Penasihat Pengurus (BPP) periode 2020–2021)

Tim Jurnalistik-Humas YISC Al Azhar 2020–2021