Jl. Sisingamangaraja, RT.2/RW.1, Selong, Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12110

Waspadalah! Hijrah ini Sering Terlupakan

Sobat, apa kabar hatimu? Sudah merasa lebih baikkah? Pepatah bijak pernah berkata bahwa orang yang beruntung adalah ia yang mampu merubah dirinya menjadi lebih baik dari dirinya yang sebelumnya. Memperbaiki kualitas imannya, menjaga dirinya lebih berakhlaq hingga memperketat dirinya sendiri dari ketidaksia-siaan hidup. Bukan sibuk membandingkan keberuntungan yang didapatkan orang lain dengan diri kita sendiri, melainkan rutin mengevaluasi kekurangan serta kelalaian yang telah dilakukan. Begitulah seharusnya makna berhijrah yang sesungguhnya bukan?

Hidup ini hanya sekali. Dunia ini pun diciptakan hanya sekali dengan waktu yang
teramat singkat. Sayangnya, masa yang tak panjang ini masih saja dipenuhi dengan carut marut perilaku yang buruk satu dengan yang lainnya. Entah mereka yang iri satu sama lain, menjatuhkan antar sesama dan banyak lagi hal negatif lainnya yang bertebaran di sana-sini. Di satu sisi hijrah menjadi fenomena yang apik bagi sebagian besar orang, namun di sisi lain hijrah hanya menjadi isu tanpa makna.

Seyogyanya, perilaku kita selama ini adalah bukti cerminan hati. Jika perilaku kita masih saja merugikan orang lain, bukankah hati kita belum sepenuhnya berhijrah? Inilah hijrah yang sering terlupakan, yakni hijrah hati. Hijrah yang tidak hanya mendahulukan kepuasan hati diri sendiri, namun meluas bagi orang sekitar. Hijrah yang menarik kita dari ketidaksempurnaan menyusun prioritas hingga teraturnya preferensi yang lebih hakiki. Menurut Imam Ibnul Qayyim, “ Keinginan untuk hijrah yang ada di hati setiap orang yang beriman bisa kuat atau lemah sesuai dengan kuat atau lemahnya motivasi cinta dalam hati seorang hamba. Setiap kali motivasinya semakin kuat, maka hijrahnya akan semakin kuat, lengkap dan sempurna. Sebaliknya, jika motivasinya semakin lemah, maka hijrahnya pun lemah. Sampai-sampai hampir-hampir dia tidak merasakannya dan tidak menggerakkan keinginannya.”

Berkiblat dari makna dua kalimat syahadat, hijrah yang sebenar-benarnya adalah dengan mengaplikasikan makna dua kalimat syahadat tersebut, yaitu hijrah menuju Allah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hijrah menuju Allah adalah bersegera melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Sedangkan hijrah kepada
Rasulullah adalah menghidupkan sunnah dan meniti jalan selaras dengan Rasulullah. Jika definisi hijrah adalah berpindah, maka hijrah hati tak lepas dari berpindahnya penempatan kecintaan kita sesuai dengan syariat Islam.

Menurut Ibnul Qayyim Al Jauziyah, ada enam tingkatan cinta, yaitu sebagai berikut :
1. Tatayyum
Tatayyum merupakan tingkatan tertinggi dalam cinta. Cinta pada Yang Maha Cinta, yakni Allah yang utama. Jika hati kita telah dipenuhi dengan kecintaan terhadap-Nya, maka mencintai yang lain tidak lain hanyalah berlandaskan kecintaan pada Allah.
2. ‘Isyk
‘Isyk adalah tingkatan cinta yang tertinggi kedua. Cinta yang membuat kita bersemangat mengerjakan sunnah Rasulullah. Senantiasa menjunjung dan bershalawat untuk beliau. Bahkan, cinta pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini dianjurkan oleh Allah SWT dalam ayat-Nya.
“Katakanlah jika kalian cinta kepada Allah, maka ikutilah aku (Nabi) maka Allah mencintai
kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. (Q.S. Ali Imran : 31)”
3. Syauq
Syauq, yakni cinta antar mukmin satu dengan mukmin lainnya yang masih memiliki kekerabatan dekat, misalnya mencintai orang tua, adik, kakak dan lainnya.
4. Shababah
Shababah adalah cinta yang direkatkan oleh kalimat tauhid “Laa ilaha illallah”. Cinta yang tertanam tanpa ada ikatan darah, kedekatan domisili bahkan tidak terikat karena kesamaan bangsa. Cinta pada tingkatan ini didasari dengan sifat saling merasakan satu sama lain. Pada akhirnya, cinta ini akan memunculkan sikap empati pada saudara semuslim yang sedang terkena musibah ataupun bencana. Entah dari negara mana pun itu.
5. ‘Ithf (Simpati)
‘Ithf adalah rasa kepedulian antara satu dengan yang lainnya tanpa memandang perbedaan agama sekalipun. Meski berbeda agama, suku dan lainnya, kita akan tetap memberikan pertolongan pada orang lain tersebut. Bukankah Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamiin?
6. Intifa
Intifa merupakan tingkatan cinta paling rendah. Hati kita cenderung mencintai harta benda. Berhati-hatilah pada cinta seperti ini karena cinta pada hartalah yang sering menggelincirkan manusia dalam kelalaian dan kemaksiatan.
Nah, Sobat, sudah sampai dimanakah tingkatan kecintaan kalian? Dalam enam tingkatan cinta di atas, Islam tidak mendefinisikan cinta terhadap pacar, gebetan atau semacamnya lho. Hati yang dengan sungguh-sungguh berhijrah akan memahami esensi mencintai yang sebenarnya. Tidak berlebihan pada harta, namun tidak pula menjadi pemalas dan tidak berkualitas di mata dunia.

Hijrah hati adalah hijrah yang menampakkan benar atau tidaknya iman dalam hati kita. Sejatinya, seseorang yang berhijrah menjalankan aturan Allah secara kaffah. Utuh tanpa memilih. Bertekad tanpa mengeluh. Hati akan merombak habis segala cita-cita, keinginan, target hidup dan pandangan hidup yang condong duniawi ke arah lebih surgawi. Mereka yang berhijrah akan memilih asing di antara kebanyakan manusia. Memiliki amalan rahasia yang
hanya diketahui oleh dirinya sendiri dan Allah SWT.

Saat mayoritas orang berduyung-duyung mengejar kesuksesan dunianya, ia yang memilih berhijrah justru senantiasa mengejar kehidupan akhiratnya kelak. Bukan lagi banyaknya dia bangkit mendirikan shalat yang dia pikirkan untuk terlihat di hadapan manusia, melainkan menjaga konsistensi keikhlasan keseluruhan ibadah dan hubungan hatinya dengan Allah. Tilawah Qur’annya sudah tidak pula membutuhkan pengakuan atau pujian dari orang lain, justru ia akan berusaha memahami makna dari ayat-ayat Al-Qur’an lantas bersegera membersihkan nuraninya dari penyakit-penyakit hati. Semoga kita bukanlah insan yang hanya pandai berkata manis ingin berhijrah dari bibir saja, namun benar-benar termaktub dari hati yang paling dalam. Selamat meluruskan niat dan memperbaiki hijrah hati secara lebih anggun, Sobat!

 

#SesiHijrah02

===================

Penulis : Elmia Purnama Sari (Yahfazka)
Tim Jurnalistik-Humas YISC Al Azhar