Jl. Sisingamangaraja, RT.2/RW.1, Selong, Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12110

Yisc Experience : "Ade nggak akan mau ngaji kalau bukan mama yang ngajar ngaji."

Oleh : Setiawati – Angkatan Al hijrah

Awalnya aku memang sedang mencari guru mengaji wanita, guru yang bisa mengajarkan aku mengaji secara privat untuk hari sabtu atau minggu. Aku dan kakak perempuanku ingin belajar mengaji lagi. Namu tidak mudah mencari guru mengaji yang bisa privat sabtu atau minggu. Kami juga belum punya info tempat mengaji dimana saja yang bagus, yang sekiranya bisa masuk dengan kami, ya yang anak muda banget gitu hehehehe.

Waktu berlalu begitu saja keinginanku dan kakak untuk mengaji. Bak gayung bersambut, ada senior di kantor yang berbeda bagian denganku, dia bercerita tentang YISC. Dia menceritakan pengalamannya ketika pernah mengaji di YISC, namun entah mengapa rasa ingin mengajiku belum kuat.

Pada akhirnya seperti mendapat tamparan dari kejadian nyata yang membawa aku semakin menguatkan niat untuk mengaji.

Ada teman satu kantor, salah satu supervisor di kantor dan dia satu bagian dengan ku. Dia seorang wanita yang sudah menikah dan memiliki dua orang anak. Saat itu anaknya masih duduk di bangku SD, setiap sore dia menghubungi orang rumah untuk memastikan anaknya di rumah baik-baik saja. Saat menelpon kepada pekerja rumah tangga yang mengasuh anaknya, dia selalu menyalakan loadspeakernya dan ditaruhnya di atas meja.

Pada saat itu percakapan dimulai.
“Mba, bagaimana anak-anak apa sudah mandi dan berangkat mengaji atau belum?” Tanya teman satu kantorku.

“Ade nggak mau berangkat ngaji bu.” Jawab mba yang mengasuh di ujung telpon.

“Mba, tolong berikan telpon ini pada ade, saya mau bicara.” Meminta kepada mba yang mengasuh

“Baik bu.” Sahut mba di telpon.

“Ade, kenapa nggak mau ngaji?” Tanya teman satu kantor dengan nada lembut kepada anaknya.

“Nggak mau ajah!” Sahut dengan nada marah.

Teman kantorku kembali berbicara dengan mba yang mengasuh anak nya, dia memarahi pengasuh karena tidak mau mengaji. Dan PRTnya selalu bilang anaknya tidak mau berangkat mengaji.

Esok harinya seakan semua pertanyaan temanku terjawab. Karena anaknya tidak mau mengaji bukan karena teman mengaji yang tidak baik, hanya satu masalahnya. Bukan ibunya yang mengajarkan anak mengaji. ”

“Ade nggak akan mau ngaji kalau bukan mama yang ngajar ngaji.” Kalimat yang cukup menamparku. Aku juga wanita yang in syaa Allah juga akan menjadi ibu. Dan sadar betul untuk dapat mengajarkan anakku mengaji bekalku saja belum cukup, bagaimana mengajari anak nanti? Jika hanya membaca Al-Qur’an aku bisa, namun dalam membesarkan anak pun harus cerdas, memiliki banyak pemahaman yang baik tentang ilmu agama islam, bukan hanya membaca Al-Qur’an, ada banyak ilmu dalam Al-Qur’an yang harus di pelajari.

Dari kejadian ini aku mendapatkan hidayah, keinginanku untuk mengaji tumbuh lagi dan saat ini aku teringat teman yang pernah mengaji di YISC. Dengan lancar tangan ini berselanjar di google tentang YISC dan alhamdulillah Allah memudahkan setiap umatnya yang mempunyai niat baik. Ketika aku temukan web YISC (www.yisc-alazhar.or.id), bertepatan saat YISC pembukaan pendaftaran untuk semester Juli 2014. Tanpa pikir panjang aku mendaftarkan diri dan kakak perempuanku juga.

Aku kira di YISC hanya belajar mengajinya hanya baca Al Qur’an ternyata ada kelas SII juga. Dimana kelas SII adalah belajar islam lebih dalam lagi. Dan disinilah perjalanan hijrahku dimulai.

Aku selalu takjub dengan teman-teman yang pengetahuan dan pemahaman agamanya baik. Aku sebagai pemula, orang yang benar-benar baru berangkat hijrah semakin semangat diri ini untuk belajar karena teman-teman dan lingkungan yang mendukung untuk aku terus berjalan di jalan yang baru ini.

Dan lagi-lagi karena di YISC, aku bisa berorganisasi, bergabung didalam kepengurusan angkatan, DIVISI PSDM Al Hijrah (angkatan), dan bersama teman-teman di PSDM Al Hijrah mendirikan mikat panahan.

Dan amalkanlah walau hanya satu ayat. Setelah 1 tahun di YISC, aku tidak hanya ingin menjadi civitas. Agar semakin banyak ilmu aku mengikuti test menjadi kakak pemandu kelas. Setelah memutuskan, namun aku ragu karena sadar betul ilmu yang aku miliki belum banyak. Tak menyerah, aku tetap maju dengan bismillah dan serahkan pada Allah. Alhamdulillah setelah berdoa dan memantapan hati serta banyak dukungan dari teman-teman dekat dan senior-senior di YISC. Alhamdulillah saat ini aku telah menjadi pemandu di angakatan dasar Juli 2015.

Hadiah dari Allah tidak berhenti. Ada seorang kakak yang sudah sangat dikenal di seluruh YISC, bernama Ka Chai. Beliau Kemudian menawari aku untuk menjadi pengurus selain menjadi pemandu. Ka Chai menanyakan aku mau di Bidang Kajian atau HUMAS? Lagi, aku tanyakan kepada Dia. Sambil menanyakan ke Ka Chai apa saja lingkup nya jika di HUMAS? Hati memilih penerbitan karena ada dua yaitu sosmed dan penerbitan, aku pilih Penerbitan.